Pages

Jumat, 27 November 2015

Mencoba Berdiri di Antara Dua Ekstrem

Selalu saja ada 3 golongan manusia dalam penilaian kerkait apa yang dilihat dan didengar. Ada yang masuk dalam golongan Ekstrem kanan, ada juga Ekstrem kiri dan ada juga yang pertengahan (Moderat). Akhir-akhir ini, ada beberapa kiyai, ustadz dan juru dakwah yang namanya sedang ngetren di kalangan jagad sosial media. Yang mudah kita ingat, ada Prof. Quraisy Syhab, ada Prof. Said Agil Siroj, ada Gus Nuril, ada Cak Nun dan lain sebagaian dari kalangan pendakwah.

Nama-nama beliau masuk dalam trending topik di sosmed dalam dua versi esktrem, kanan dan kiri. Namun, saya pribadi sulit memilihkan dua ekstrem itu pada tempat yang seharusnya. Sebagai contoh, seorang Said Agil Siroj, beliau seorang yang bergelar Prof. Doktor, dalam bidang agama. Tentu saja, bagi saya yang orang awam, akan melihat beliau adalah orang besar dan intelektual.
Mana mungkin seorang bergelar Prof. Doktor, apalagi alumni timur tengah adalah orang yang tidak pandai. Dari sisi ini saya harus mengakui beliau sebagai sosok yang samagt dalam pengetahuannya. Namun dari sisi yang lain, beberapa kali beliau mengeluarkan statemen yang sangat kontroversi. Masalah jenggot umpamannya. Atau ada juga statemen beliau tentang penghafal Quran adalah calon teroris. Jelas ini sangat menciderai umat Islam secara umum.

Walaupun di awal saya kagum dengan keilmuan beliau, dan tentu saja andil beliau dalam mencerdaskan ummat, namun dari sisi statemen yang kontroversi tersebut, pun tidak pantas bagi saya menutup mata. Kalau memang beliau salah, ya katakan salah. Sebagai pengagum keilmuan dan keintelektualan beliau saya juga harus bisa mengatan beliau salah ketika berbuat salah. Kadang orang berpura-pura buta ketika melihat idolannya melakukan kesalahan.
Namun demikian, tak pantas juga bagi saya mencaci maki beliau dan "gebyah uyah" atau pukul rata, bahwa setiap yang diucapkan oleh Said Agil adalah sesat dan salah. Dalam kondisi ini, kita mesti belajar berdiri di tengah. Katakan salah jika salah, dan jangan disesat-sesatin ketika memang tidak melakukan kesalahan. Sulit memang.

Adalagi, Profesor Quraisy Syihab. Beliau seorang profesor bidang tafsir. Tidak mudah seorang meraih gelar profesor kalau dia bukan orang yang pandai dalam bidangnya. Begitu pun dengan Quraisy Syihab. Dari sisi ini saya harus mengakui bahwa beliau seorang yang alim dan ahli tafsir Al Quran. Jika dibandingkan dengan saya, tentu perbedaannya "baina sama' wa sumur" antara langit dan sumur. Bukan lagi dibandingkan dengan bumi yang terlihat permukaannnya, tapi ini sumur yang kedalamannya kadang tak dapat dijangkau mata. Jauh.

Namun di sisi lain dari kehidupan beliau, tentu saja ada sisi kekurangannya, ini pun menurut sebagian kalangan, dalam ceramah-ceramah beliau yang membela syiah. Dari sisi pembelaan beliau terhadap syiah, mungkin saya pribadi tidak sependapat dengan beliau. Atau dalam pendapat beliau tentang hukum jilbab bagi wanita, beliau mengatakan tidak wajib. Sisi ini saja tidak setuju dan sependapat dengan beliau. Namun bukan berarti saya dengan mudah menuduh beliau sebagi syiah sesat yang halal darah dan kehormatannya untuk dihabisi. Bukan. Bukan sepeti ini.

Yang saya maksud dalam tulisan ini, sudah selayaknya kita berada di garis tengah. Bukankah pertengahan itu baik dalam segala urusan.?

Dalam banyak hal seputar toleransi beragama, kita pun dituntut untuk berada di garis tengah. Orang non muslim atau biasa disebut sebagai kafir pun, kita sebagai muslim dituntut untuk toleransi. Kan ayatnya jelas "lakum diinukum wa liya diiinun" / agamamu agamamu agamaku agamaku. Kita berjalan pada agama masing-masing tanpa harus saling menciderai. Itu toleransi yang saya fahami dan yang saya anut. Namun toleransi ada batasnya. Gak semua yang disebut tolesansi itu dibenarkan. Coba bayangkan, ada seorang pendeta kriten mati dan diadakan acara kematian menurut kepercayaan mereka di sebuah gereja. Ketika kita membiarkan mereka pada ajarannya, ini yang namanya toleransi. Namun kalau ada orang yang disebut Kiyai, ustadz, pemuka agama Islam yang datang diacara kematian tersebut kemdian mengikuti ritual mereka, ya Jelas ini toleransi yang "keblinger". Kebablasan. Menurut saya, justru ini masuk katagori penistaan agama. Ya, si Kiayi tersebut melakukan penistaan agama krtisten pada saat itu. kok bisa? ya iya, karena dia menambah-nambah ritual kematian orang non muslim dengan tari sufi yang dia bawakan. Harusnya pendeta kristen memperingatkannya karena si kiayi salah.


Waallu a'lam bi as showab. Semoga kita dijadikan oleh Allah sebagai “ummatan Wasathon” yang benar-benar di tengah. Dengan memfungsikan dua telinga dan dua mata, maka bisa menjangkau segala sisi objek yang sedang kita lihat dan kita dengar. Seringkali ketidakadilan kita dalam menilai suatu objek karena sebab tidak tuntasnya pandangan kita dalam menelusuri segala penjurunya.


Ahmad Hilmi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

About