Pages

Senin, 18 November 2013

Sumpah, Gue Galau

Sejauh ini, saya mendengar kata galau hanya dari remaja-remaja yang baru menginjak usia puber, ABG, anak baru gede. Tema galau yang sering mewarnai kehidupan merekapun tidak jauh-jauh dari urusan pacar dan teman dekat atau juga masalah fashion dan penampilan. Belum punya pacar, galau. Putus hubungan pacaran, galau. Wajah berjerawat, galau. Dalam kondisi seperti ini, biasanya aktifitas harian jadi gak karuan, makan tak enak, tidur tak nyenyak, hanya buang (maaf) hanyak yang banyak.

Sebenarnya apa sih makna galau sendiri jika dilihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)?
Galau : ga·lau a, ber·ga·lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran); 
ke·ga·lau·an n sifat (keadaan hal) .

Jika kita perjelas, maka akan kita dapatkan arti galau seperti ini: kodisi di mana keadaan pikiran sedang kacau tidak karuan yang disebabkan oleh banyak hal. Jadi bukan hanya satu persoalan, tapi berbagai persoalan beramai-ramai mengisi pikiran kita.

Kamis, 14 November 2013

Harta Bersama (Gono-gini) Dalam Kacamata Syariah Islam, Adakah?

“pa, setelah kita nikah, berarti harta papa menjadi harta mama juga ya?”
“iya, harta papa menjadi harta mama juga.” Jawab suaminya.
“tapi pa,…….” Sambung isrtinya tanpa melanjutkan kata-katanya. Agak malu ngucapinya.
“tapi kenapa ma?”
“tapi harta mama tetap harta mama lho ya.” Lanjutnya. “warisan  yang mama dapat dari orang tua tetap jadi milik mama lho, papa gak usah ikut punya. Kan papa kepala keluarga.”
“gleg (sambil nelen ludah).” Suaminya hanya bengong saja.

Percakapn ini berlangsung ketika keadaan rumah tangga dalam keadaan normal. Tetapi akan beda persoalan ketika sedang dalam sidang perceraian dan meributkan pembagian harta.

Rabu, 13 November 2013

Penasaran Yang Berujung Petaka (Balada Miras Oplosan)

Suatu siang, ketika saya membaringkan punggung di atas kasur, terbersit sebuah dialog yang saya buat sendiri dan saya jawab sendiri. Ini gara-gara kabel setrika yang tidak dirapikan dan mengganggu pemandangan di kamar. Tapi dialoge  hanya terucap dalam angan tho’, ndak keras-keras kok. Yo kalo keras-keras nanti temen-temen kos ngira kalo saya sedang konslet. Lha wong ngomong kok sendirian.
“walah, siapa tho yang habis naruh setrika, kok kabelnya nglewer (terjulur) ndak digulung lagi?” kebetulan ada rak kecil tepat diatas kaki saya jika posisi berbaring.

“coba tak tarik lah.” Saya tarik kebel itu dengan jepitan jari dan jempol kaki.
Ketika sekali saya tarik, kabel itu sepertinya kuat tersangkut di rak. Saya semakin penasaran saja untuk menarik kabel itu lebih kuat lagi.

“kalau saya tarik, kira-kita setrikanya jatuh gak ya?”
“kalau jatuh, pasti setrikanya kena kakiku ni.”

Walaupun saya sudah membayangkan setrika itu akan jatuh jika kabelnya saya tarik lebih kuat lagi, tapi itu tidak cukup menjawab rasa penasaran saya.
Dan akhirnya…”klotak…” “hemmm, bar kuwe saiki (baru tahu rasa kamu).” Terjawab sudah penasaran ini, setelah ujung setrika benar-benar menghantam tulang kering saya. Lumayanlah untuk sekedar alasan nyengir. Sakit, tapi puas dengan jawaban setrika itu.
*****

Selasa, 05 November 2013

Qishas, Hukum Islam Yang Ditakuti Tapi Dinanti

Akhir-akhir ini media kita sering mengangkat berita tentang kriminalitas, dengan beragam bentuk dan tipe: perampokan, pencurian, tawuran antar warga sampai pada tindak pembunuhan.

Terjadinya pembunuhan pun dilakukan dengan berbagai orentasi; dari masalah yang memang dianggap serius sampai persoalan yang remeh. Dengan alasan terbakar api cemburu, seorang tega membakar pasangannya hingga meninggal. Karena persoalan utang piutang dengan nominal Rupiah yang tidak seberapa, seorang bisa menebas leher temannya. Seakan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan yang berujung kematian adalah solusi paling mudah untuk dilakukan.

Begitu murahnya kah  harga sebuah nayawa??

Senin, 04 November 2013

Imajinasi Nada Dalam Goresan Pena (Belajar Menghargai Usaha Anak)

Di usianya yang baru saja melewati tiga tahun, ternyata Nada putriku sudah bisa sedikit menuangkan imajinasinya dalam goresan pena. Beberapa bulan lalu (usia 2,5 tahun sampai 3 tahun), coretan penanya dikertas belum bisa dimengerti orang lain. Tapi toh begitu, dia tetap bisa menafsirkan dan menceritakan maksud coretannya tersebut kepada orang lain.

"umi, abi, adik Nada buat gambar sapi." Dia menunjukkan coretannya dikertas.
"ini telingannya, ini kakinya, ........." penjelasannya kepada kami dari coretan yang dia buat. Padahal kami tidak membayangkan sama sekali kalau itu gambar seekor sapi. Dan masih banyak lagi coretan-coretan ringan yang dia buat beserta penjelsaanya.

Yang kami keran, anak sekecil itu sudah bisa menuangkan imajinasinya dalam goresan tinta, dan dia faham betul maksud yang dia coretkan. Bukan coretan hampa tanpa makna.

Jumat, 01 November 2013

Istri Cantik Nan Menawan, Pentingkah? (Obrolan Ringan Memilih Pasangan)

ketika sedang ngumpul dengan teman-teman di “tongkrongan”, tidak jarang obrolan kita mengarah pada masalah pernikahan dan berumah tangga. Ya maklum, karena usia kita rata-rata sudah masuk seperempat abad, 25 tahun. Usia matang untuk membahas masalah ini. Terlebih lagi sebagian kita sudah ada yang menikah. Jadilah obrolan ini semakin hangat dengan shering-sharing ringan dari teman-teman yang sudah menikah.
Yang paling sering kita sorot adalah sisi lebih dari seorang wanita.

“ah, gak cantik gak apa. Yang penting hatinya.” Komentar dari sebagian teman.
“kalau hati kan bisa dipoles (ditata), nah kalau wajah kan gak bisa dirubah.” Seloroh yang lain.
“kebalik tu. Kalau hati gak bisa dirubah. Tapi kalau muka bisa dipoles.” Lagi-lagi komentar yan keluar hanya opini yang tidak berdasar. Ya, sekedar shering saja.
“yang penting kaya bro, walaupun janda.” Ini lebih aneh lagi. Dan masih banyak lagi opini-opini seputar kriteria pasangan idaman untuk hari depan kelak.

Tentu, obrolan semacan ini tidak hanya berlaku di kalangan kaum adam saja, yang membicarakan kaum hawa. Saya yakin, kaum hawapun punya obrolan semacam ini, membicarakan kriteria calon pasangannya kelak.
 

Blogger news

About