Pages

Jumat, 27 November 2015

Selamat Hari [Ibuk Bapak] Guru


Mesra ya.. Itu beliau berdua Bapak dan ibukku. Foto itu kiriman dari adik yang diambil beberapa hari lalu di pinggir salah satu pantai di Kalianda, Lampung Selatan selepas menghadiri wisuda S1-nya si bontot.


Dari 5 putranya, sebagian ada yang lulus sampai jenjang SMA, ada juga yang lulus S1, ada juga yang sedang menempuh pendidikan S2 dan ada juga yang sedang menempuh Jenjang S3. Ala kulli hal, semua putranya mengenyam pendidikan formal. Hebat ya? bisa jadi. Tapi tentu saja lebih hebatan gurunya dari pada muridnya.
Yup, sebelum kita putra-putranya mengenyam pendidikan formal di luar sana, beliau berdualah yang berperan sebagai guru dan dosen untuk kita.

Mencoba Berdiri di Antara Dua Ekstrem

Selalu saja ada 3 golongan manusia dalam penilaian kerkait apa yang dilihat dan didengar. Ada yang masuk dalam golongan Ekstrem kanan, ada juga Ekstrem kiri dan ada juga yang pertengahan (Moderat). Akhir-akhir ini, ada beberapa kiyai, ustadz dan juru dakwah yang namanya sedang ngetren di kalangan jagad sosial media. Yang mudah kita ingat, ada Prof. Quraisy Syhab, ada Prof. Said Agil Siroj, ada Gus Nuril, ada Cak Nun dan lain sebagaian dari kalangan pendakwah.

Nama-nama beliau masuk dalam trending topik di sosmed dalam dua versi esktrem, kanan dan kiri. Namun, saya pribadi sulit memilihkan dua ekstrem itu pada tempat yang seharusnya. Sebagai contoh, seorang Said Agil Siroj, beliau seorang yang bergelar Prof. Doktor, dalam bidang agama. Tentu saja, bagi saya yang orang awam, akan melihat beliau adalah orang besar dan intelektual.

Senin, 22 Desember 2014

Mereka Yang Gonggongannya Tak lagi Didengar

Hidup bersama di bangsa manusia tak akan pernah luput dari komentar. Apa pun yang dapat dicapai oleh panca indera pasti jadi sasaran kritik. Baik apa yang dilihat, didengar, diraba, dicium/ dihirup, dan juga yang dirasa. Terlepas apakah itu kritik yang membangun atau pun kritik yang memang sudah jadi "hobi". Akan berakhir dengan hasil yang bagus ketika itu kritik yang membangun. Kritik model ini biasanya dibarengi dengan sebuah solusi. "Saya kurang setuju dengan kebijakan seperti ini, dan ini solusi dari saya". Yang seperti itu cerdas, walaupun belum tentu diambil.

Sabtu, 06 Desember 2014

InSyaA Allah, InSya Allah atau In Sya Allah, Mana Yang Benar Penulisan dengan Huruf Latin?

Beberapa saat yang lalu ada seorang kawan yang tanya pada saya seputar ucapan إِن شَاءَ اللهُyang ditulis menggunakan tulisan latin. Yang benar itu “Insya Allah, In Sya’a Allah atau In syaAllah”? Sebagai mana kita maklum, bahwa lafadz itu sering kita tulis dalam pesan singkat (SMS) ketika membuat janji dengan seseorang. Kebingungan kawan saya ini bermula saat dia membaca tulisan di media On Line yang mempermasalahkan makna (arti) yang terkandung jika ditulis dengan penulisan yang kurang pas.

Pasar dan Fenomena Keburukan Kaum "Mutaffifun" (Pelaku Curang)

Di libur akhir pekan, saya sempatkan menemani istri belanja beras di pasar.   Setelah menanyakan kualitas beras beserta harganya di salah satu kios, kemuadian istri mengambil beras seharga Rp. 9000,00/ kg. Biasanya, dengan kisaran harga segitu, sudah bisa memberoleh beras baru dengan kualitas bagus. Begitupun yang diucapkan pedagang dengan sangat meyakinkan. Kalaupun ada kenaikan harga tak akan terlihat signifikan.

Ternyata, setelah dimasak nasi yang dihasilkan beraroma "apek" dengan rasa yang tidak gurih. Ini menandakan beras itu stok lama atau beras baru yang dicampur dengan beras bulog.

Saya dan istri hanya bergumam, "astagfirullah, ternyata bagi sebagian orang mencari rejeki halal itu tak mudah."

Minggu, 30 November 2014

Guru-guru Takut Murid

Dulu, jaman saya masih sekolah di awal tahun 90-an hingga awal 2000-an, guru adalah sosok yang sangat disegani sekaligus ditakuti oleh para murid. Karena pandangan kita saat itu, guru adalah sosok pendidik sekaligus pengganti orang tua di sekolah. Maka hampir tak pernah terjadi orang tua bersebrangan pemikiran dengan guru, apalagi sampai komplen. Guru dan orang tua “Klop” satu pandangan dan misi, MENDIDIK anak.

Kamis, 04 September 2014

Memburu Sebuah Pengakuan


Tiba-tiba saya teringat dengan penggalan syair yang sempat saya hafalkan kala berada di bangku kuliah. Dulu hanya sekedar hafalan lafadz tanpa peresapan makna. Belum lagi, gaya hafalan yang benar-benar payah, penuh keterpaksaan. Karena jujur, saya sering mengalami kesulitan tiap kali menghafal syair-syair para udaba’.

Adalah Abu Al-‘Atahiyah (130 H- 213 H/ 747 M- 825 M), yang bernama asli Isma’il ibn al- Qasim ibn Suwaid al- ‘Aini, pernah bersyair.

يظنّ الناسُ بي خيرًا وإنّي ....... لشرُّ الناسِ إن لم تعفُ عنّي
 

Blogger news

About