Pages

Jumat, 18 April 2014

Pesantren, Solusi Sekolah Murah yang Tidak Murahan

Bagi para orang tua, menyekolahkan anak di sekolah berkualitas adalah harapan. Tapi sayangnya, sekolah yang dikenal dengan kualitas baiknya, biasanya ‘mematok’ harga tinggi juga. “Ono rego, ono rupo”, demikian ungkapan orang Jawa dalam menilai kualitas berdasarkan harga.

Di samping berharap anaknya bisa bersekolah di sekolah berkualitas secara akademik, mereka juga berharap anaknya memiliki moral yang baik. Sebagai seorang Muslim, paling tidak pengetahuan agama tidak “Nol”. Penulis katakan seperti ini karena jam pelajaran agama sangat minim di sekolah. jadi, untuk memenuhi dua kebutuhan itu, akademik yang baik serta muatan agama yang cukup, maka pesantrenlah sosusinya.

Rabu, 16 April 2014

Menyoal Ucapan Syahadat Orang Lain Karena Politik

Tentu, kita masih ingat peristiwa peperangan kaum Muslimin melawan sekelompok kaum dari kabilah Juhaynah. Di situ, Usamah bin Zaid, sahabat Rosulullah, membunuh seseorang yang telah bersyahadat dalam keadaan terjepit. Usamah bin Zaid menganggap syahadat yang diucapkan orang tersebut hanya pura-pura dan mencari aman. Karena memang, jika dilihat dari teori perang, dia (orang tersebut) sudah tidak mampu membuat perlawanan. Lantas dia bersyahadat. Sebagai manusia biasa yang tidak bisa mengintip hati orang lain, apa yang dilakukan Usamah bukan sesuatu yang salah.

Kabar terbunuhnya orang yang telah bersyahadat tersebut, sampai ketelinga Rasulullah. Sambutan beliau bukan dengan senyum kebanggaan. Bukan juga dengan ucapan, “wah, kamu hebat, Usamah, karena kamu telah membunuh orang yang telah ber-taqiyah dengan syahadat juga berpura-pura masuk Islam.” Bukan itu sambutan Rasulullah. Justru Rasulullah marah besar atas tindakan yang dilakukan Usamah meskipun dia telah menjelaskan kronologinya.

Sabtu, 12 April 2014

Menyikapai Berita, Tabayyun atau Tajassus?

Crosscheck atau 'tabayyun' dalam bahasa Arab, merupakan cara yang diajarkan Islam dalam mendengar dan menerima berita.

Secara harfiyah, 'tabayyun' berarti mencari kejelasan dan keterangan yang sesunggungnya. Ada juga kata 'tajassus', masih dalam bahasa Arab, yang berarti juga mencari-cari berita. Namun, kata 'tajassus' mempunyai arti negativ dalam penggunaannya, yaitu mencari berita dengan cara memata-matai, dan lebih fokus pada berita buruk dan aib pihak lain. Pemahaman kata 'tajassus' juga ada di dalam QS. Alhujurat.

Sabtu, 05 April 2014

Saya Mendukung Pemilu, Bukan Membenci

Pemilu, yang sebentar lagi digelar, tidak bisa dipisahkan dengan aksi sosialisasi dan pengenalan. Ya, kita menyebutnya kampanye.

Kalau mau jujur, sebenarnya ada sisi kemiripan antara kampanye politik dan iklan dagangan. Keduanya sama-sama ingin dipilih dan dibeli. Cara menjajakannya pun nyaris tak ada beda, “dipilih-dipilih, 10 ribu tiga.” Dan yang tak kalah ‘kerennya’ lagi adalah atribut iklan yang digunakan, ramai dan terkesan murah meriah.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan iklan-iklan politik semacam itu. Semua sah-sah saja untuk dilakukan, asalkan beretika.
Janji yang disampaikan rata-rata manis dan sedap didengar. Tapi sayang, cara yang digunakan untuk menyampaikan sangat jauh dari etika.

Hari Kampanye Terakhir, Semakin Parno Dengan GOLPUT

Katanya, 5 April ini adalah kampanye terakhir yang dijadwalkan KPU jelang Pemilu. Saya bilang katanya, karena saya yakin tidak semua parpol pemilu dan caleg rela berhenti kampanye tepat pada tanggal yang dijadwalkan KPU.
Sebelum surat suara benar-benar dicoblos, saya yakin betul akan ada yang curi-curi kesempatan dan waktu untuk kampanye. Terlebih lagi, kampanye anti GolPut, alias anti tidak nyoblos.
Untuk kampanye anti golput, ada beragam isu yang dihembuskan agar bisa mempengaruhi pendirian para GOLPUTER.

Jumat, 07 Februari 2014

Nikmatnya Dunia Itu Relatif

Selepas sholat magrib ada seorang kawan yang mengajak saya ke warung makan lesehan, ikan bakar.
“Alhamdulillah tadi siang saya habis gajian.” Tuturnya.
Sampailah kita di warung yang dituju. Sambil menyantap ikan nila bakar kita berbincang ringan seputar makna hidup. Tiba-tiba dia berujar, “Enak ya bro kalau tiap malam atau bahkan tiap kali makan kita bisa menyantap ikan bakar kayak gini trus”.
“Gak juga bro, malam ini kita bisa merasakan kalau ikan bakar ini nikmat, karena kita jarang makan. Paling setiap kali gajian doang.”
“Kalau kita makannya tiap hari kaya gini pasti bosen, gak nikmat lagi.” sambungku.
“Ah masak sih?” hanya kalimat pendek itu saja sebagai sanggahannya atas pernyataan saya tadi.

Minggu, 02 Februari 2014

Kelebihan Percaya Diri = Obesitas

PeDe (percaya diri) merupakan satu nikmat dan karunia dari Allah subhanuhu wata’ala yang wajib disyukuri. Bagaimana tidak, ketika sebagian orang tidak bisa menyampaikan buah pikirannya karena alasan tidak percaya diri, orang yang punya rada Pede mampu melakukannya. Kala sebagian orang merasa kerdil bak batu kerikil yang sanagt kecil, si pemilik rasa PeDe mampu unjuk gigi dengan segala gagasan dan opininya.

Layaknya sebagai sebuah nikmat, PeDe juga bisa berubah menjadi laknat. Ya, ketika berlebihan. Berat badan yang bertanbah akan terlihat ideal jika sesuai dengan postur tubuh. Bahkan, si pemilik badanpun akan semakin terlihat anggun dan gagah dengan paduan berat badan dan postur tubuh yang ideal tersebut. Hal ini akan terlihat sangat berbeda ketika postur tubuh yang tidak tinggi tetapi berat badan yang berlebih. Obesitas namanya. Bukan hanya kehilangan keanggunannya, tapi juga malah terlihat lemah dan lesu dan gak pantes.

PeDe memang bagus, ketika tidak berlebihan dan dikontrol sesuai kemampuan.
 

Blogger news

Blogroll

About